Selasa, 15 September 2015

Carpal Tunnel Syndrome Fisioterapi


                                                                                                                                                                           

 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejumlah aktivitas pekerjaan yang rentan terkena sindroma terowongan karpal diantaranya, mengetik computer, pekerjaan pengemasan, pengecoran, pengeboran, jasa pengantaran barang, pekerja pos, para pekerja yang mobilitasnya memakai motor dll.
Sindroma terowongan karpal merupakan penyakit yang menyerang tangan, dimana syaraf tangan menyatu di bagian pergelangan tangan sehingga menyebabkan nyeri tidak berfungsinya syaraf jari jemari diakibatkan adanya tekanan pada nervus medianus atau syaraf gabungan yang berfungsi sebagai pembawa rasa dan juga penggerak. Medianus merangsang syaraf pergerakan motorik ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan separuh jari manis.Tekanan terjadi jika rongga terowongan menyempit.
Penyakit yang paling umum dan sering mengenai nervus medianus biasanya adalah neuropati tekanan atau jebakan (entrapment neuropathy). Pada pergelangan tangan nervus medianus ini berjalan menuju carpal tunnel atau terowongan karpal dan menginnervasi kulit telapak tangan dan punggung tangan di daerah ibujari, telunjuk, jari tengah dan setengah radial dari jari manis. pada saat berjalan melalui terowongan inilah nervus medianus ini paling sering mengalami tekanan yang dapat menyebabkan terjadinya neuropati tekanan yang dikenal dengan Carpal Tunnel Sindrom/ sindroma terowongan karpal (STK).
Tulang tulang karpalia membentuk dasar dan sisi sisi terowongan yang keras dan kaku sedangkan atapnya dibentuk oleh fleksor retinakulum (transverse carpal ligament dan palmar carpal ligament ) yang kuat dan melengkung diatas tulang tulang karpalia tersebut.
Tulisan ini akan mencoba membahas STK meliputi etiologi, patologi , manifestasi klinis, anatomi fungsional dan biomekanik, prognosis penyakit , pemeriksaan dan tenaga medis. Dengan segala keterbatasan diharapkan tulisan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai STK.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan pada kondisi Carpal Tunnel Syndrom maka penulis dapat menuliskan masalah antara lain:
1. Apa Definisi Carpal Tunnel Syndrome ?
2. Apa Etiologi Carpal Tunnel Syndrome ?
3.Bagaimana Patologi dari Carpal Tunnel Syndrome ?
4. Apa Tanda dan Gejala Carpal Tunnel Syndrome ?
5. Bagaimana Fungsional dan Biomekanik dari Carpal Tunnel Syndrome ?

1.3 Tujuan

Dengan adanya latar belakang masalah dapat disimpulkan tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa itu Carpal Tunnel syndrome.
2. Untuk mengetahui Etiologi Carpal Tunnel Syndrome
3. Untuk mengetahui Patologi dari Carpal Tunel Syndrome
4. Untuk mengetahui Tanda dan Gejala pada Carpal Tunnel Syndrome
5. Untuk mengetahui Fungsional dan Biomekanik dari Carpal Tunnel Syndrome

 
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

              Carpal Tunnel Syndrome (CTS) merupakan kompleks gejala yang disebabkan oleh penekanan nervus medianus diterowongan karpal, dengan nyeri dan rasa terbakar atau paraestesia yang menggelitik  di jari-jari  dan tangan, terkadang meluas ke siku (dorland, 2002).
             
Carpal tunnel syndrome (CTS) adalah kondisi yang memengaruhi tangan dan jari hingga mengalami sensasi rasa kesemutan, mati rasa, atau nyeri. Gejala yang muncul ini biasanya berkembang secara perlahan-lahan dan pada malam hari akan bertambah parah. Bagian yang paling sering terpengaruh adalah jempol, jari tengah, dan telunjuk.
Carpal tunnel atau lorong karpal adalah jalur pada pergelangan tangan dimana terdapat saraf median dan sembilan tendon yang berguna dalam pergerakan jari-jari tangan.
                Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah kumpulan gejala akibat penekanan pada nervus medianus ketika melalui terowongan carpal (Carpal Tunnel) di pergelangan tangan. Manifestasi dari sindroma ini adalah rasa nyeri dan kesemutan (paraesthesia) (Sidharta, 1996). CTS merupakan neuropati jepitan yang paling banyak dijumpai, yaitu terjebaknya Nervus Medianus di dalam terowongan Karpal pada pergelangan tangan, di bawah fleksor retinakulum (DeJong, 1992). American Society for Surgery of the Hand mendefinisikan CTS sebagai kompresi neuropati dari Nervus Medianus di pergelangan tangan dimana saraf melewati bawah ligamentum karpal transversus (Burton, 1983).

2.2 Etiologi

                Etiologi CTS dapat terjadi pada keadaan yang menyebabkan penyempitan terowongan karpal misalnya trauma pada tangan bisa karena fraktur riwayat immobilisasi lama akibat operasi ataupun karena over use yang bersifat kronik pd pergelangan tangan, kelainan anatomis bawaan (herediter), gangguan pada otot dan tulang seperti akromegali osteofit yang dapat mempengaruhi struktur pergelangan tangan. Etiologi yang paling sering terjadi yaitu penebalan fleksor retinaculum karena proses radang. Namun secara sekunder CTS dapat timbul juga pada penderita dengan Osteoarthritis, Diabetes Melitus, Miksedema, Amiloidosis atau wanita yang hamil (Sidharta,1984).
Penyakit sistemik lainnya misalnya kegemukan dan menopause karena gangguan keseimbangan hormon yang mengakibatkan penimbunan lemak atau cairan yang menimbulkan penyempitan dalam terowongan karpal (Katz, 2002).
CTS merupakan neuropati jepitan yang paling banyak dijumpai, yaitu terjebaknya Nervus Medianus di dalam terowongan Karpal pada pergelangan tangan, di bawah fleksor retinakulum (DeJong, 1992). American Society for Surgery of the Hand mendefinisikan CTS sebagai kompresi neuropati dari Nervus Medianus di pergelangan tangan dimana saraf melewati bawah ligamentum karpal transversus (Burton, 1983).

2.3   Patologi Carpal Tunnel Syndrome

                CTS terjadi pada dua fase yakni fase akut dan kronik. Pada CTS yang akut, biasanya terjadi kompresi yang melebihi tekanan perfusi kapiler, sehingga terjadi gangguan mikrosirkulasi saraf. Saraf menjadi iskemik, terjadi peninggian tekanan fasikuler yang juga akan memperberat keadaan iskemik ini (Moeliono, 1993 dikutip oleh Rambe, 2004).
Selanjutnya terjadi pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan edema yang menimbulkan terganggunya sawar darah saraf dan merusak saraf tersebut. Pengaruh mekanik atau tekanan langsung pada saraf tepi dapat pula menimbulkan invaginasi nodus Ranvier dan demieliminasi setempat sehingga konduksi saraf terganggu (Moeliono, 1993 dikutip oleh Rambe, 2004). Hal inilah yang menyebabkan nyeri dan kesemutan di pergelangan tangan pasien.
Pada CTS yang kronik, terjadi penebalan fleksor retinaculum yang menyebabkan tekanan terhadap Nervus Medianus. Tekanan yang berulang-ulang dan lama akan mengakibatkan peninggian tekanan intrafasikuler. Akibatnya aliran darah vena intrafasikuler melambat. Kongesti yang terjadi ini akan mengganggu nutrisi intrafasikuler lalu diikuti oleh anoksia yang akan merusak endotel. Kerusakan endotel ini akan mengakibatkan kebocoran protein sehingga terjadi edema epineural. Apabila kondisi ini terus berlanjut akan terjadi fibrosis epineural yang merusak serabut saraf. Kemudian saraf dan otot menjadi atrofi dan digantikan oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi Nervus Medianus terganggu secara menyeluruh (Moeliono, 1993 dikutip oleh Rambe, 2004).

2.4 Gambaran klinis Carpal Tunnel Syndrome

            Gejala awal, pasien sering terbangun di malam hari mengeluhkan tebal, nyeri dan kesemutan di ibu jari, telunjuk, jari tengah dan setengah sisi radial jari manis kecuali jari kelingking (Richard, 1983 dikutip oleh Bahrudin, 2005).
Gejala lainnya adalah pergelangan tangan serasa diikat ketat (tightness) dan kaku gerak (Moeliono, 1993 dikutip oleh Rambe, 2004).
            Pada tahap yang lebih lanjut kekuatan tangan menurun. Selain itu, seringkali penderita mengeluh jari-jarinya menjadi kurang trampil terutama fungsi menggenggam serta dapat dijumpai atrofi otot-otot thenar dan otot-otot lainnya yang dipersarafi oleh Nervus Medianus (Sidharta, 1984).
2.5 Tanda dan gejala
a.  Gangguan sensorik
Gangguan sensorik yang timbul awalnya adalah parestesia, kurang merasa (numbness) atau rasa jari seperti terkena aliran listrik pada jari dan setengah sisi radial jari, walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai seluruh jari, keluhan parestesia biasanya lebih menonjol di malam hari. Gejala lain adalah nyeri ditangan yang juga dirasakan lebih memberat di malam hari . Kadang-kadang nyeri dapat terasa sampai ke lengan atas dan leher, sedangkan parestesia umumnya terbatas di daerah distal pergelangan tangan (Rambe, 2004). Dapat pula dijumpai pembengkakan dan kekakuan pada jari-jari tangan dan pergelangan tangan terutama di pagi hari.
b. Gangguan motoris
Pada tahap lanjut dapat terjadi gangguan pada nerves medianus yang menimbulkan kelemahan otot tenar sehingga jari-jari tidak dapat digunakan untuk bekerja, misalnya menjahit, menulis, mengancingkan baju, mengendarai motor.       

2.6 Anatomi Fungsional dan Biomekanik

Pergelangan tangan dibentuk oleh beberapa tulang,otot,struktur persendian dan diinervasi oleh beberapa saraf
A.    Tulang pembentuk sendi pergelangan tangan
Tulang-tulang pada sendi pergelangan tangan yaitu ada dua deretan. Daratan pertama yaitu dari tulang Radius dan Ulna. Deretan yang kedua terdiri atas delapan tulang carpalia yang tersusun dalam dua deretan. Tulang carpal deretan proximal antara scapoideum,lunatum,triquetrum,pisiforme. Sedangkan bagian distal terdiri atas tulang trapesium,trapesoideum,capitatum, dan hamatum.
1. Tulang scapoideum
Tulang ini berbentuk perahu dengan dataran yang proximal konveksi bersendi dengan tulang radius. Yulang ini memiliki dataran sendi yaitu ke arah ulnar bersendi dengan tulang hamatum, ke arah distal bersendi dengan tulang tulang trapesium, capitatum, dan trapesoideum dan pada permukaaan volar memiliki tonjolan yang disebut tuberositas scapoideum (Putz R dan R. Pabst,2005).
2. Tulang Lunatum
Tulang ini memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu kearah radial dengan tulang Scapoideum, ke arah ulnar dengan Triquetrum, ke arah distal dengan tulang capitatum. Tulang ini memiliki dataran proximal yang konvek yang bersendi dengan tulang radius, dan berbentuk kecil, seperti bulan sabit (Putz R dan R. Pabst, 2005).
3. Tulang Triquetrum
Memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah proximal dengan tulang radius, ke arah radial dengan tulang Lunatum, ke arah ulnar dan polar berhubungan dengan tulang pisiforme yang melekat pada permukaan polar tulang triquetrum dan arah distal dengan tulang hamatum (Putz R dan R. Pabst,2005).
4.Tulang Pisiforme
Tulang yang berbentuk kecil,agak bulat seperti biji kacang ini melekat di dataran polar pada tulang triquetrum (Putz R dan R. Pabst,2005).
5. Tulang Trapesium
Tulang ini memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah polar dengan trapesoideum dan terdapat tonjolan tulang yang disebut tuberositas osis trapesium, ke arah proximal dengan tulang scapoideum, ke arah distal dengan tulang metacarpal satu dan dua (Putz R dan R. Pabst,2005).
6. Tulang Trapezoideum
Tulang ini ke arah radial mempunyai hubungan dengan tulang trapesium ke arah ulnar dengan tulang capitatum, ke arah distal dengan tulang metacarpal dua, dan ke arah proximal berhubungan dengan tulang scapoideum (Putz R dan R. Pabst,2005).
7. Tulang Capitatum
Memiliki bangunan bangunan bulat dan panjang sebagai caputnya. Mempunyai hubungan dengan tulang lain yaitu kearah radial berhubungan dengan tulang trapesoideum, ke arah proximal dengan tulang scapoideum dan lunatum. Ke arah ulnar dengan tulang hamatum dan ke arah distal dengan tulang metacarpal dua, tiga, dan empat (Putz R dan R. Pabst,2005).
8. Tulang Hamatum
Memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah proximal dengan tulang triquetrum ke arah radial dengan tulang capitatum ke arah distal dengan tulang metacarpal empat dan lima. Dan ke arah polar memliki bangunan seperti lidah yang disebut hamalus ossis hamati (Putz R dan R. Pabst,2005).
Pada os scapoideum dan os trapesium yang masing-masing memiliki tonjolan tulang pada bagian colarnya membentuk eminentia carpi radialis. Di sebelah ulnanya terdapat eminentia carpi ulnaris yang dibentuk oleh os pisiforme dan hamalum ossis hamati.
                                 
  Gambar 1. Tulang-tulang pergelangan tangan (Putz R dan R. Pabst,2005)
1. Ligamen
Ligamen colateral capri ulnar yang membentang dari procesus styloideus ulna menuju ke tulang triquetrum ligamen colateral carpi radialis yang membentang dari prossesus stiloideus radii menuju tulang scapoideum dan ligamen intercarpal yang terdiri dari ligamen interlaveum collare dan dorsale, ligamen interseum dan ligamen carpiarquetrum.
                       Gambar 2. Trowongan carpal  Otot
Otot merupakan stabilitas aktif dan penggerak tulang pembentuk sentral. Otot pergelangan tangan secara umum dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu otot fleksor dan ekstensor yang masing-masing terbagi dua bagian superfisialis dan profunda. Otot fleksor superficialis yaitu otot fleksor carpi ulnaris, fleksor carpi radialis, fleksor digitorum sublimes dan palmaris longus (Cailliet,1990).
Otot fleksor carpi radialis dan fleksor carpi ulnaris berfungsi fleksi di pergelanagan tangan, dan otot ekstensi ekstensor carpi radialis longus brevis dan ekstensor carpi ulnaris berfungsi ekstensi pergelangan tangan. Pada gerakan ulnar deviasi dilakukan oleh m.ekstensor carpi ulnaris dan fleksor carpi ulnaris. Sedangka gerakan radial deviasi dilakukan oleh m,ekstensor carpi radialis, fleksor carpi radialis, ekstensor pollicis brevis dan abduktor pollicis longus.
1. Nerves Medianus
Berasal dari pleksus brakhialis dengan dua buah caput yaitu caput medial dari pasikulus medialis dan caput lateral. Dari pasikulus lateralis kedua caput tersebut ersatu pada tepi bawah otot pectoralis minor, jadi serabut dalam truncus berasal dari tiga atau empat segmen medula spinalis (C6-8, Th 1). Dalam lengan serabut saraf ini tidak bercabang. Truncus berjalan turun sepanjang arteri brachialis dan melewati sisi polar lengan bawah dna bercabang masuk ke tengah dan berakhir dengan cabang muscular kutaneus (Chusid, 1993).
Otot-otot yang mensarafi nerves medianus antara lain : m. pronator teres, m. fleksor carpi radialis, m.palmaris longus, m.fleksor digitorum profundus, m,fleksor pollicis longus dan pronator quadratus (Chusid, 1993). Apabila ada lesi yang mengenai nerves medianus akan mengakibatkan terjadinya pengurangan sensoris pada bagian polar lengan bawah, daerah palmar tangan jari satu,dua,tiga,dan setengah jari empat.

         Gambar 3. Otot-otot pergelangan tangan tampak palmar

B.     Biomekanik
Ditinjau dari morfologinya termasuk articulasio ellipsoidea, tetapi fungsinya sebagai artikulatio gluboidea. Gerakan yang terjadi pada persendian itu yaitu fleksi dengan LGS 800 ekstensi 700, ulnar deviasi  300, dan radial deviasi 200. Derajat fleksi dan ulnar deviasi lebih besar dibandingkan dengan gerakan ekstensi dan radial deviasi, hal ini disebabkan karena bentuk permukaan sendi radius dari ligamen bagian dorsal lebih kendor dari bagian palmar (Chuside, 1967).

                   Gambar 4. Perjalanan nerves medianus

2.7 Prognosis Gerak dan Fungsi

             Carpal Tunnel Syndrom yang kasusnya idiopatik mempunyai gejala yang timbul dan hilang dalam beberapa bulan atau tahun tapi rasa tidak enak pada malam hari dapat lebih menonjol dan berlangsung sehingga mengganggu penderita progresitifitasnya lebih sering terjadi pada penyakit yang melatarbelakangi. Bila ada kelainan sensorik, kelainan ini bersifat reversible, tetapi bila dijumpai kelainan motorik maka kesembuhan akan lebih lama walaupun telah melakukan banyak terapi.
                                              

2.8 Pemeriksaa Umum dan Penunjang  

              Pemeriksaan umum ini dilakukan untuk melihat keadaan umum pasien,meliputi :
a. Pemeriksaan Fisik :
·         Tekanan darah
·         Denyut nadi
·         Pernapasan
·         Temperaature tubuh
·         Tinggi badan
·         Berat badan
a.Pemeriksaan kognitif :
 Pemeriksaan kognitif diketahui bahwa memori pasien baik, mampu memahami  dan mengikuti instruksi terapis.
b. Pemerksaan interpersonal :
 Pemeriksaan interpersonal diketahui bahwa pasien mempunyai semangat untuk sembuh sehingga dia rajin datang untuk terapi.
c. Pemeriksaan intrapersonal :
Pemeriksaan intrapersonal  diketahui bahwa pasien dapat bekerjasama dan berkomunikasi baik dengan terapis atau lingkungan sekitar.

2.9 Pemeriksaan Khusus

            Pemeriksaan khusus adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui penyebab dan perubahan-perubahan yang terjadi akibat gangguantersebut.
Dalam kasus ini pemeriksaan khusus yang dilakukan antara lain:
1. Inspeksi
Inspeksi adalah pemeriksaan secara visual tentang kondisi sertakemampuan gerak, pengecilan otot (atrofi), deformitas, warna serta kondisikulit sekitarnya, langkah (gait). Kemampuan beraktifitas serta alat bantu yangdigunakan untuk melakukan aktivitas, posisi pasien dan lain-lain.
2. Quick tes
Quick tes atau tes cepat adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui secara cepat kasus yang dialami oleh pasien, sehingga dapatmemilahkan pemeriksaan selanjutnya yang berhubungan dengan kasus yangkemungkinan diderita oleh pasien.
3. Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar 
Dalam hal ini meliputi fungsi gerak aktif, gerak pasif, dan gerak isometric.Pada pemeriksaaan ini umumnya pada pasien ditemukan adanya rasa nyeri,keterbatasan gerak, kelemahan otot dan sebagainya.
4. Tes Khusus 
Test khusus yang digunakan untuk mendiagnosa adanya Carpal TunnelSndrome pada diri seseorang atau tidak meliputi :
   1). Phalen Tes
Pergelangan tangan dipertahankan selama 1 menit, dalam posisi fleksi palmer yang penuh (90°). Apabila posisi ini cukup lama dipertahankan pada setiap orang, maka akan timbul rasa kesemutan. Tetapi dalam halCarpal Tunnel Syndrome kesemutan dapat timbul dalam waktu yangsangat singkat (dalam waktu 30 detik). Kadang-kadang diikuti dengan parestesia baru akan timbul apabila pergelangan tangan digerakkankembali dari posisi fleksi palmer yang maksimal.
    2). Tinel Tes
Ketokan local pada syaraf medial, memancing timbulnya “nyeri kejut“
didalam tangan serta parestesia didalam jari.
5. Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan terhadap anggota gerak dengan menggunakantangan dan membedakan antara kedua anggota gerak yang kanan dan kiri.Palpasi dilakukan terutama pada kulit untuk mengetahui temperatur, oedema,spasme dan sebagainya.
6. Pemeriksaan ROM
Pemeriksaan ROM ini dilakukan pada pergelangan tangan, dengan tujuanuntuk mengetahui apakah ada keterbatasan gerak pada pergelangan tangan, pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan goniometer.
7. Pemeriksaan Nyeri
Pemeriksaan nyeri menggunakan VRS bertujuan untuk mengetahuikeadaan nyeri yang dirasakan pasien. Baik saat diam atu gerak.

2.10 Tindakan medis dari Dokter

1.Dilakukan Dokter
Dokter juga akan memberikan obat anti inflamasi dan anti nyeri.  Obat-obatan ini bukan untuk menyembuhkan CTS tapi hanya meringankan keluhan saja.
Memberikan suntik steroid pada pergelangan tangan.  Penyuntikan steroid ini dilakukan bila obat minum tidak begitu menolong.
Operasi
Tindakan operasi dilakukan bila dengan pengobatan di atas tidak menunjukkan hasil yang berarti, atau bila sudah terjadi kerusakan syaraf.
Tujuan dari operasi adalah untuk meringankan tekanan yang ada pada syaraf di pergelangan tangan.
Caranya adalah dengan cara melonggarkan ligamen yang menutupi terowongan carpal sehingga terowongan carpal menjadi lebih luas.
Operasi ini sangat aman dengan beberapa resiko seperti infeksi, lamanya waktu penyembuhan luka, kekakuan dan nyeri pada lokasi operasi.
Sebagian besar pasien merasakan gejala hilang setelah dilakukan operasi dan sudah dapat menggerakkan tangannya dengan nyaman dalam 2-3 hari setelah operasi.
Pasien dapat bekerja kembali antara 3-4 minggu dan dapat berolahraga/bekerja berat setelah 6 minggu pasca operasi.

2.11 Tindakan Fisioterapi

a. Teknologi Fisioterapi
1. Teknologi Alternatif
   (a) Parafin Batth
   (b) Terapi Latihan
   (c) MWD (Micro Wave Diathermy)
   (d) SWD (Short Ware Diathermy)
   (e) US (Ultrasound)
   (f) IR (Infra Red)
2. Teknologi yang dilaksanakan
     1). Ultrasound
           Efek terapeutik US masih sedang diperdebatkan. Sampai saat ini, masih sangat sedikit bukti untuk menjelaskan bagaimana US bisa menyebabkan efek terapeutik dalam jaringan yang terluka. Namun demikian praktisi di seluruh dunia terus menggunakan modalitas terapi ini sesuai dengan pengalaman pribadi, bukan bukti ilmiah. Berikut adalah sejumlah teori oleh US yang berhubungan dengan efek terapeutik.
1)      . Thermal Efek:
Ketika gelombang ultrasonik lulus dari transuder ke dalam kulit yang menyebabkan getaran di sekitar jaringan, terutama yang mengandung kolagen. Getaran yang meningkat ini menyebabkan produksi panas dalam jaringan. Pada kebanyakan kasus, hal ini tidak dapat dirasakan oleh pasien sendiri. Peningkatan suhu ini dapat menyebabkan peningkatan Ekstensibilitas struktur seperti ligamen, tendon, jaringan parut dan kapsul fibrosa sendi. Selain itu, pemanasan juga dapat membantu untuk mengurangi rasa sakit dan kejang otot dan meningkatkan proses penyembuhan.
1. Efek pada inflamasi dan Proses Perbaikan:
Salah satu manfaat terbesar terapi US yang disampaikan adalah yaitu mengurangi waktupenyembuhan cedera jaringan lunak tertentu.
• US berpikir untuk mempercepat waktu penyembuhan yang normal dari proses peradangan dengan menarik lebih banyak “mast sells” ke lokasi cedera. Ini dapat menyebabkan peningkatan aliran darah yang dapat bermanfaat pada fase sub-akut pada cedera jaringan. US tidak di anjurkan pada cidera dimana peningkatan aliran darah masih berlangsung.
• Ultrasonografi juga dapat merangsang produksi kolagen khususnya komponen protein dalam jaringan lunak seperti tendon dan ligamen. Oleh karena itu US dapat mempercepat fase proliferatif pada penyembuhan jaringan.
• US berpikir untuk meningkatkan ekstensibilitas kolagen dan dapat memiliki efek positif pada fibrosa jaringan parut yang dapat terbentuk setelah cedera.
2. Penerapan Ultrasound:
• Ultrasound biasanya diterapkan dengan menggunakan transduser yang memancarkan sinar ultrasonik. Bergerak terus menerus dalam kulit sekitar 3-5 menit. Pengobatan dapat diulangi 1-2 kali setiap hari, lebih sering pada kondisi cidera akut dan lebih jarang frekuensinya pada kasus-kasus kronis.
• Dosis Ultrasound dapat bervariasi baik dalam intensitas atau frekuensi. Frekuensi rendah digunakan pada daerah-daerah cidera yang letaknya lebih dalam, sedang frekuensi tinggi digunakan untuk permukaan yang lebih dekat dengan kulit.
3. Kontraindikasi Untuk Penggunaan:
  Pada penyakit jaringan yang abnormal, tekanan darah yang tinggi, tumor yang   menyebar di seluruh tubuh.
1. Jangan gunakan jika pasien menderita dari:
• Tumor ganas atau kanker jaringan
• Infeksi akut
• Risiko perdarahan
• Ischeamic jaringan berat
• Ada riwayat trombosis vena
• Terkena jaringan saraf
• Kecurigaan terhadap patah tulang
• Jika pasien hamil
• Jangan gunakan di daerah gonad (alat kelamin)
4. Penatalaksanaan Terapi
            Penatalaksanaan fisioterapi untuk memberikan metode yang tepat dan efektif berdasarkan masalah yang dihadapi, penyebab dan kemampuan pasien sehingga tujuan dari terapi dapat tercapai dengan baik dan yang diharapkan dari program terapi dapat terwujud. Pada kasus carpal tunnel syndrome ini pelaksanaan fisioterapi menggunakan modalitas ultra sonic dan terapi latihan untuk mengatasi problematik yang dihadapi pasien.
Terapi pertama (T1) tanggal 5 Desember 2007:
1. Ultrasound
 

Gambar 6.  Uultrasound dan pelaksanaanya pada palmar
a. Persiapan alat
Mesin ditest apakah mesin dalam keadaan baik dan dapat mengeluarkan gelombang ultra sonic dengan cara memberi air pada tranduser  guna menampung air dan dipegang menghadap ke atas kemudian mesin dihidupkan, bila mesin dalam keadaan baik maka air akan bergerak seperti mendidih kemudian koupling medium, handuk, tissue, dan alkohol dipersiapkan.
b.  Persiapan pasien
Pasien diposisikan senyaman mungkin, rileks, dan tanpa adanya rasa sakit yaitu posisi dengan duduk kemudian tangan supinasi diletakkan diatas bed, kemudian pada bagian tangan disuport oleh bantal. Dan tangan yang akan diterapi harus terbebas dari pakaian dan segala aksesoris. Sebelum pemberian terapi dilakukan tes sensibilitas dengan menggunakan tabung berisi air panas dan dingin didaerah tangan bagian palmar. Posisi terapis duduk di depan pasien. Pasien  diberi penjelasan tentang tujuan pengobatan yang diberikan dan juga rasa panas yang dirasakan dan jika pasien merasakan seperti kesemutan  yang berlebihan saat terapi berlangsung diharapkan pasien langsung memberitahukan kepada terapis.

c.  Pelaksanaan
Alat diatur sedemikian rupa sehingga tangkai mesin dapat menjangkau tangan yang akan diterapi kemudian area yang akan diterapi yaitu pada dorsal pergelangan tangan kanan diberikan koupling medium kemudian tranduser ditempelkan lalu mesin dihidupkan lalu tranduser digerakan pelan-pelan pada pergelangan tangan kanan pasien secara tranvers dan irama yang teratur di atas pergelangan tangan dengan arah tegak lurus  dengan area terapi, tranduser harus selalu kontak dengan kulit, dengan intensitas 1,5 watt/cm2 secara continous, lama terapi 5 menit diperoleh dari luas area 25 cm2 dan ERA 5 cm2. Selama proses terapi berlangsung harus mengontrol panas yang dirasakan pasien. Jika selama pengobatan rasa nyeri dan ketegangan otot meninggi, dosis harus dikurangi dengan menurunkan intensitas. Hal ini berkaitan dengan overdosis. Setelah terapi pada pergelangan tangan kanan selesai intensitas dinolkan dan dilanjutkan untuk pergelangangan tangan yang kiri sama seperti yang dilakukan pada pergelangan tangan kanan, setelah selesai kemudian alat dirapikan seperti semula. Untuk (T2 – T6) pemberian terapi ultra sonic pada pergelangan tangan kanan dan kiri sama seperti T1.
2. Terapi Latihan

Ressisted exercise yaitu merupakan bagian dari active exercise dengan dinamik atau statik kontraksi otot dengan tahanan dari luar. Tahanan dari luar bisa dengan manual atau dengan mekanik.
Posisi pasien: duduk di kursi dengan tangan disangga bantal, terapis duduk berhadapan dengan pasien.
Pelaksanaan:
a. Gerakan dorsi fleksi dan palmar fleksi
Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh. Latihan diberikan pada pergelangan tangan kanan dan kiri. Terapis menstabilisasi pada pergelangan tangan kemudian pasien diminta menggerakkan kearah dorsal dan palmar fleksi dan terapis memberi tahanan kearah palmar dan dorsal tangan dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama 7 hitungan kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan kemampuan pasien dengan pengulangan 8 – 10 kali (Bates, 1992).
          
Gambar 7. Gerak palmar dan dorsi fleksi dengan tahanan
b.  Gerakan ulnar deviasi dan radial deviasi
     1). Ulnar deviasi:
Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh dan pronasi dalam posisi netral. Latihan diberikan pada pergelangan tangan kanan dan kiri Terapis memfiksasi pada distal lengan bawah dan pasien diminta menggerakkan tangan ke ulnar dan terapis memberi tahanan kearah dorsal tangan dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama 7 hitungan kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan kemampuan pasien, dengan pengulangan 8 – 10 kali (Bates, 1992).


 
Gambar 8. Gerak ulnar deviasi dan radial deviasi yang ditahan
         2). Radial  deviasi:        
Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh dan pronasi dalam posisi netral. Latihan diberikan pada pergelangan tangan kanan dan kiri Terapis memfiksasi pada distal lengan bawah dan pasien diminta menggerakkan tangan ke radial deviasi dan terapis memberi tahanan kearah ulnar tangan dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama 7 hitungan kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan kemampuan pasien, dengan pengulangan 8 – 10 kali (Bates, 1992). Untuk (T2 – T6) pemberian terapi latihan  pada pergelangan tangan kanan dan kiri sama seperti T1 tapi untuk tahanannya ditambah.
3. Edukasi
           Agar hasil maksimal maka perlu diberikan edukasi pada pasien tentang cara melakukan aktivitas sehari-hari yang benar dan pemberian modalitas fisioterapi. Edukasi yang diberikan untuk penderita carpal tunnel syndrome yaitu pasien diminta untuk mengompres dengan air hangat pada kedua pergelangan sampai telapak tangan kanan dan kiri sekitar 10 menit, menggerakkan kedua pergelangan tangan sebatas nyeri pasien secara aktif dengan tujuan pemperlancar peredaran darah dan mengistirahatkan kedua tangan saat timbul nyeri dan juga jangan mengangkat beban berat yang menimbulkan nyeri, serta melakukan latihan tangan  seperti yang diajarkan terapis tapi menggunakan tahanan kantong pasir, jangan mengangkat beban berat yang menimbulkan nyeri, jangan memaksakan bekerja secara berlebihan saat tangan merasa nyeri.


                                                                          PENUTUP

3.1 Kesimpulan

             Dari uraian yang telah dijelaskan dalam bab terdahulu, mulai dari penyebab, perjalanan penyakit sampai pelaksanaaan terapi dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa carpal tunnel syndrome adalah suatu sindroma akibat adanya penekanan nervus medianus pada terowongan carpal dengan derajat penekanan yang bervariasi dari ringan sampai berat. Keadaan tersebut muncul karena adanya berbagai kondisi, artinya syndroma ini jarang muncul sendiri tanpa adanya kondisi lain sebaga pencetus carpal tunnel syndrome sendiri mempunyai gejala dan tanda klinis yang beragam tergantung derajat kerusakan nervus medianus yang tertekan.
Modalitas fisioterapi yang dapat diberikan pada kondisi ini antara lain: ultra sonic, short wave diathermy, micro wave diathermy, infra red, massage, terapi latihan, cold pack. Fisioterapi dengan modalitas ultra sonic dan terapi latihan merupakan terapi yang dapat diberikan pada kondisi carpal tunnel syndrome. Untuk mengatasi masalah yang muncul, yang meliputiimpairment, functional limitation, serta disabilitynya.
Pada kasus ini dengan menggunakan ultra sonic dan terapi latihan selama 6 kali, dapat mengatasi masalah dengan hasil menambah kekuatan otot, mengurangi nyeri dan meningkatkan kemampuan fungsional tangan walaupun  belum sepenuhnya dapat diatasi. Peningkatan ini berkat kerja sama fisioterapis dan tenaga kerja lain.


3.2 Saran

         Adanya kerja sama dengan tenaga kesehatan yang lain merupakan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan, meskipun pemberian modalitas fisioterapi memegang peranan penting. Hendaknya fisioterapi melakukan identifikasi dan interprestasi masalah dengan baik sehingga bisa diberikan interfensi yang sesuai dengan permasalahan yang ada.
Dalam pemberian  modalitas perlu diperhatikan pengecekan terhadap modalitas secara periodik agar program terapi yang dilaksanakan dapat mencapai hasil yang optimal. Fisioterapi sendiri hendaknya mengembangkan pengetahuan dan selalu merasa tidak puas dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Hal-hal yang juga mempengaruhi keberhasilan terapi adalah motivasi pasien untuk sembuh, peranan dari keluarga serta kerjasama dari tenaga kesehatan lain yang terkait.
Penulis berharap semoga penyajian penulisan ini dapat bermanfaat dalam memberikan pelayanan terapi pada carpal tunnel syndrome dengan modalitas fisioterapi berupa ultra sonic dan terapi latihan. Akhirnya penulis menyadari bahwa penyajian mengenai penatalaksanaan terapi ultra sonic dan terapi latihan pada carpal tunnel syndrome bilateral dalam Karya Tulis Ilmiah ini masih mempunyai banyak kekurangan dan perlu disempurnakan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun senantiasa penulis harapkan guna kepentingan bersama yang lebih baik.


                                                                    Daftar pustaka
Fisioterapi, H. (2011, desember 18). HMP fisioterapi Universiras Muhammadyah Surakarta.Dipetik september 13,2015,dari http://www.justimaginic.blogspot.com/2011/12/fisioterapi-pada-carpal-tunnel-syndromehtml
Guai, E. J. (2013, maret 06). CTS Hermina. Dipetik september 13, 2015, dari http://www.id.scribd.com/doc/128862121/cts-hermina
Muhtadi, I. (2013, mei 24). Topik ke-122 Carpal Tunnel Syndrome. Dipetik september 13, 2015, dari http://www.indramuhtadi.com/script-2013/topik-ke-122-carpal-tunnel-syndrome
Wahid, W. (2011, desember 20). Carpal Tunnel Syndrome. Dipetik september 13, 2015,darihttp:/www.wahyuwahid.wordpress.com/2011/12/20/carpal-tunnel-syndrome












Tidak ada komentar:

Posting Komentar